WARTAPOLRI.COM, BANDUNG -Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengungkapkan bahwa perkebunan kelapa sawit tidak mampu menampung air, sehingga berpotensi memperparah bencana banjir dan tanah longsor.(12)12/25)
Menurutnya, ekspansi sawit dan penebangan hutan menyebabkan tanah kehilangan kemampuan menyerap air dan menahan lumpur, membuat daerah rawan bencana.
Dedi Mulyadi menyebut sawit sebagai “pohon manja” karena tidak dapat melindungi tanah dari gelombang, lumpur, atau getaran, berbeda dengan hutan alami yang justru berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Pernyataan ini memicu diskusi luas tentang pentingnya pengelolaan lahan dan perlindungan hutan untuk mencegah bencana alam di masa depan.
Dedi Mulyadi menekankan bahwa keberadaan hutan alami sangat penting sebagai penyangga ekosistem dan penjaga kualitas tanah.
Ia menyoroti bahwa penggantian hutan dengan perkebunan sawit justru mengurangi fungsi ekologis lahan, sehingga meningkatkan risiko bencana alam.
Menurut Dedi, perkebunan sawit yang tumbuh di lahan yang sebelumnya hutan akan mengalami kesulitan menyerap air saat hujan deras, menyebabkan air mengalir deras ke daerah rendah dan memicu banjir.
Fenomena ini juga berdampak pada kehidupan masyarakat sekitar yang sering menjadi korban bencana.
Gubernur Jabar itu juga menyerukan perlunya regulasi yang lebih ketat terhadap perluasan perkebunan sawit, serta upaya restorasi hutan dan penghijauan untuk mengurangi dampak negatif tersebut.
Ia mengingatkan bahwa keberlanjutan lingkungan harus diutamakan demi kesejahteraan generasi mendatang.
Banyak pakar lingkungan mendukung pendapat Dedi Mulyadi, menyebut bahwa tanaman sawit memang memiliki sistem akar yang dangkal sehingga kurang efektif dalam menyerap air dibandingkan pohon hutan alami.
Tanpa pengelolaan yang baik, ekspansi sawit bisa menjadi ancaman serius bagi keseimbangan alam.
Pernyataan Dedi Mulyadi ini menjadi pengingat bagi pemerintah dan masyarakat untuk lebih bijak dalam memanfaatkan sumber daya alam, serta mendorong upaya pelestarian hutan dan pengelolaan lahan yang ramah lingkungan. (Fahri)

