WARTAPOLRI.COM,JAKARTA — Jakarta – Upaya memperkuat ketahanan usaha peternakan nasional terus didorong oleh Kementerian Pertanian (Kementan). Salah satu langkah strategis yang kini mendapat perhatian adalah pengembangan asuransi ternak, yang dipandang sebagai instrumen penting dalam mendukung keberlanjutan program-program prioritas di sektor peternakan.
Komitmen tersebut tercermin dalam pertemuan yang diselenggarakan oleh Direktorat Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan bersama PT Asuransi Central Asia (ACA) pada Rabu (15/4/2026). Kegiatan ini turut melibatkan Direktorat Pembiayaan dari Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan, sebagai bagian dari sinergi lintas sektor untuk memperkuat perlindungan bagi para peternak.
Dalam pertemuan tersebut, Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan, Makmun, memaparkan dua program strategis yang tengah berjalan, yakni investasi sapi perah dan sapi pedaging, serta program Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT). Kedua program ini memiliki peran penting dalam meningkatkan produksi sekaligus nilai tambah subsektor peternakan nasional.
Menurut Makmun, pengembangan asuransi ternak menjadi langkah strategis untuk memberikan kepastian usaha bagi peternak. “Kami ingin memastikan bahwa setiap peternak memiliki perlindungan terhadap risiko, sehingga mereka dapat terus berproduksi dan berkontribusi pada ketahanan pangan nasional,” ungkapnya.
Ia menambahkan, asuransi ternak merupakan instrumen krusial dalam memitigasi berbagai risiko usaha, terutama yang berkaitan dengan kematian ternak. Dengan adanya perlindungan tersebut, peternak diharapkan memiliki rasa aman yang lebih tinggi dalam menjalankan usahanya. Tidak hanya itu, skema ini juga memungkinkan adanya penggantian ternak, sehingga keberlanjutan usaha tetap terjaga meskipun terjadi musibah.
Lebih lanjut, Makmun menekankan bahwa pengembangan asuransi ternak perlu didukung oleh skema dan premi yang terjangkau, adaptif terhadap dinamika risiko usaha, serta mampu memberikan kepastian perlindungan. Hal ini penting untuk mendorong minat dan partisipasi peternak dalam program asuransi.
Di sisi lain, ACA saat ini tengah menjalankan pilot project asuransi ternak sapi di sejumlah wilayah, antara lain koperasi sapi perah di Jombang, Koperasi Tani Wilis di Tulungagung, serta Kawasan Usaha Peternakan Sapi Perah (KUNAK) di Bogor. Sementara itu, asuransi ayam petelur telah lebih dahulu diimplementasikan di Bogor sebagai langkah awal menuju pengembangan skema yang lebih luas.
Jakub Nugraha, Product Owner Asuransi Mikro dan Asuransi Pertanian ACA menyampaikan bahwa pihaknya akan terus melakukan kajian dan penyempurnaan terhadap skema serta besaran premi agar sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan peternak. “Upaya ini diharapkan dapat mendorong implementasi asuransi ternak yang lebih efektif, inklusif, dan berkelanjutan,” ujarnya.
ACA juga menyatakan kesiapan untuk memperkuat kolaborasi dengan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam mendukung pelaksanaan asuransi ternak, baik untuk sapi maupun ayam petelur, termasuk ayam dalam program HAT serta ayam Merah Putih.
Ke depan, pengembangan asuransi ternak diharapkan mampu menghadirkan skema perlindungan yang tidak hanya optimal, tetapi juga terjangkau dan sesuai dengan karakteristik usaha peternakan di Indonesia. Dengan demikian, sektor peternakan nasional diharapkan semakin tangguh, produktif, dan berkelanjutan.
( RED )


