WARTAPOLRI COM PANYABUNGAN – MADINA Beberapa hari terakhir, warga Desa Parbangunan, Kecamatan Panyabungan, Mandailing Natal, dikejutkan oleh sebuah peristiwa yang tidak biasa. Lantai Masjid Al-Muhajirin di desa itu terasa panas dari bawah. Para jamaah yang datang untuk salat merasakan hawa hangat yang merambat melalui keramik tempat mereka bersujud.(5/4/26)
Tidak ada api. Tidak ada sumber panas yang terlihat. Namun panas itu nyata.
Pemerintah desa dan aparat kemudian memeriksa lokasi tersebut. Tim teknis pun turun untuk memastikan penyebabnya.
Bagi sebagian orang, fenomena ini mungkin sekadar gejala alam. Tetapi bagi masyarakat yang hidup di kaki pegunungan Sorik Marapi, kejadian seperti ini hampir selalu menghadirkan pertanyaan yang lebih besar: apa yang sebenarnya sedang bergerak di bawah tanah Mandailing Natal?
Secara ilmiah, peristiwa seperti ini dapat dijelaskan sebagai manifestasi panas bumi. Dalam sistem geothermal, panas dari reservoir di perut bumi dapat naik ke permukaan melalui rekahan batuan. Gejala itu bisa muncul dalam bentuk tanah hangat, uap panas, mata air panas, atau perubahan suhu di permukaan tanah.
Wilayah Mandailing Natal memang berada di jalur vulkanik Bukit Barisan — sebuah kawasan yang dikenal menyimpan potensi energi panas bumi besar. Dari sudut pandang pembangunan nasional, potensi ini bahkan dianggap sebagai salah satu sumber energi bersih yang penting bagi masa depan Indonesia.
Namun di Mandailing, tanah tidak hanya dipahami sebagai lapisan geologi. Ada aroma filosofi dan ideologi. Itu adalah tanah ulayat.
Dalam sistem sosial Mandailing, tanah ulayat bukan sekadar aset ekonomi. “Tano” merupakan ruang hidup yang terkait dengan sejarah marga, garis keturunan, serta ikatan sosial masyarakat. Tanah diwariskan bukan hanya sebagai kepemilikan, tetapi sebagai bagian dari identitas kolektif yang menghubungkan generasi masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Di sinilah fenomena panas yang muncul dari bawah lantai masjid di Desa Parbangunan memperoleh makna yang lebih luas.
Kosmologi Mandailing mengungkapkan, kehidupan masyarakat terhubung melalui tiga lingkar penting: “luat, banua, dan bangso”. Luat adalah ruang pemukiman turun-temurun hidup tempat masyarakat membangun kampung dan menjalankan kehidupan sehari-hari. Banua adalah wilayah sosial yang lebih luas, tempat berbagai banua terhubung dalam jaringan adat dan sejarah yang sama. Sementara, “bangso” menunjuk pada kesadaran kolektif sebagai satu komunitas yang memiliki tanah, adat, dan asal-usul bersama.
Dalam kerangka inilah tanah ulayat memperoleh kedudukannya yang paling dalam. Tano bukan sekadar ruang ekonomi, tetapi fondasi dari luat, penyangga banua, dan penanda martabat sebuah bangso.
Karena itu, setiap perubahan yang menyangkut tanah selalu memiliki resonansi sosial yang luas. Mandailing Natal sendiri dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi salah satu titik penting pengembangan energi panas bumi di Sumatra. Kawasan Sorik Marapi dan sekitarnya masuk dalam peta pengembangan geothermal nasional.
Bagi negara, energi panas bumi adalah bagian dari strategi transisi menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Namun pembangunan energi tidak pernah hanya soal teknologi dan investasi. Ia selalu bersentuhan dengan manusia, tanah, dan kehidupan sosial masyarakat.
Pengalaman di berbagai daerah di Indonesia menunjukkan bahwa proyek energi berskala besar tidak jarang memunculkan ketegangan sosial ketika masyarakat lokal merasa tidak dilibatkan secara memadai. Sengketa lahan, kekhawatiran terhadap dampak lingkungan, hingga ketidakjelasan manfaat ekonomi sering menjadi sumber kegelisahan masyarakat.
Mandailing Natal tentu tidak ingin mengulang pengalaman tersebut. Dalam konteks itulah fenomena lantai masjid panas di Parbangunan terasa seperti sebuah metafora yang kuat.
Masjid desa bukan sekadar bangunan ibadah. Ini adalah ruang sosial tempat masyarakat berkumpul, berdialog, dan membangun solidaritas.
Ketika panas datang dari bawah lantai masjid, peristiwa itu seolah mengingatkan bahwa di bawah kehidupan yang tampak tenang, terdapat dinamika besar yang sedang bergerak.
Energi dari perut bumi memang menjanjikan peluang pembangunan. Ini dapat menghadirkan listrik, membuka lapangan kerja, dan memperkuat ekonomi daerah. Namun tanpa pengelolaan yang adil dan transparan, energi yang sama juga dapat memunculkan kegelisahan baru.
Karena itu, pembangunan energi di Mandailing Natal harus berjalan dengan satu prinsip utama: menghormati masyarakat adat sebagai pemilik sejarah tanah itu sendiri. Transparansi lingkungan harus dijaga. Dialog dengan masyarakat harus dibuka. Dan manfaat ekonomi harus benar-benar dirasakan oleh warga sekitar.
Jika prinsip ini dijalankan, panas bumi dapat menjadi berkah bagi Mandailing Natal. Namun jika diabaikan, energi yang sama dapat menimbulkan kegelisahan yang lebih dalam.
Fenomena lantai masjid panas di Parbangunan mungkin hanyalah gejala alam biasa. Tetapi bagi masyarakat Mandailing, tanda ini terasa seperti sebuah pengingat: bahwa tanah yang mereka pijak menyimpan energi besar yang akan menentukan masa depan daerah ini.
Ketika panas muncul dari bawah lantai masjid, yang bergetar sebenarnya bukan hanya tanah.
Yang bergetar adalah luat dan banua Mandailing — sebuah masyarakat yang sedang mencoba menjaga keseimbangan antara alam, pembangunan dan martabat tanah ulayatnya sendiri.
Ludfan Nasution,
Berbagai Sumber
Reporter Tim, Okis Ray

