WARTAPOLRI.COM, JAKARTA – Jakarta Utara kembali dilanda banjir rob dahsyat sejak 1 Januari 2026, dengan air pasang mencapai 50 cm di Jalan RE Martadinata dan kawasan Tanjung Priok, membuat ratusan kendaraan mogok dan warga terjebak lumpur. Fenomena ini dipicu pasang tinggi air laut yang diperkirakan berlangsung hingga 7 Januari, memaksa Pemprov DKI Jakarta gerak cepat pasang ribuan geobag sebagai tanggul darurat.
Fenomena JIS Kontroversial disebut memperparah banjir di sekitar stadion, sementara BPBD mengimbau warga waspada ‘super new moon’ yang bisa picu gelombang ekstrem. Ribuan pompa air mobile dikerahkan, tapi warga Muara Angke tetap was-was karena rumah mereka nyaris tenggelam lagi.
Jakarta Utara kini berjuang melawan banjir rob yang tak kunjung reda sejak awal 2026. Warga Tanjung Priok dan Muara Angke menggelar aksi gotong royong, menumpuk geobag setinggi pinggang sambil berdoa agar pasang laut tak naik lebih tinggi lagi.
Pemimpin lokal blusukan ke lokasi, janji percepat proyek tanggul raksasa NCICD yang dirancang hingga 2030 untuk selamatkan ibu kota dari ancaman tenggelam permanen. Namun, tudingan JIS picu banjir kian memanas, Jakpro buru-buru buka suara soal dampak stadion megah itu.
Di tengah lumpur dan genangan, kisah heroik nelayan yang selamatkan tetangga dengan perahu kayu viral di media sosial. Fenomena super new moon disebut jadi pemicu utama, tapi para ahli desak solusi permanen agar 2027 tak ulang mimpi buruk ini.
Dr. Farid Putra Bakti dari ITB tekankan pasang surut sebagai penyebab utama rob, ditambah storm surge angin lokal di Laut Jawa, sehingga prediksi akurat bisa cegah korban jiwa meski faktor subsidence tanah tetap jadi ancaman kronis. F. Salsabillah dari UNJ ungkap analisis spasial tunjukkan 90% Jakarta Utara rawan rendah tapi kecamatan Penjaringan paling parah, sarankan bobot faktor seperti elevasi lahan dan jarak pantai untuk peta kerawanan presisi.
Para pakar ramal tanpa intervensi radikal seperti NCICD dan larangan ekstraksi air tanah, rob bakal rutin tiap pasang tinggi, dengan subsidence Jakarta capai 15 cm/tahun di utara kota.
Masyarakat yang tidak mau disebut namanya menuding proyek Pantai Indah Kapuk (PIK) dan pagar lautnya jadi pemicu utama rob memburuk di Jakarta Utara, karena reklamasi ubah alur arus laut alami dan percepat genangan ke daratan. “PIK bukan solusi, tapi bumerang yang picu storm surge lebih ganas saat pasang tinggi,” tegasnya saat wawancara di lokasi banjir. (Red/Fahri)


