WARTAPOLRI.COM, JAKARTA– Presiden Prabowo Subianto dikabarkan sering “panas” saat mendengar laporan bahwa beberapa menteri di Kabinet Merah Putih tidak sepenuhnya selaras dengan visi kebijakan ekonomi yang digarap Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Sumber internal Istana mengungkapkan, Prabowo tak segan menggebrak meja rapat jika ada indikasi “penyimpangan” dari program prioritas seperti Janji 8 dan stabilitas APBN 2025, yang menjadi andalan Purbaya sejak dilantik pada 8 September 2025 dikutip dari ekonomi.bisnis.com
Dalam pertemuan tertutup baru-baru ini, Prabowo disebut-sebut menyindir keras menteri yang “kurang seirama”, dengan nada tegas: “Saya tidak mau ada yang main sendiri! Ikuti Purbaya atau siap-siap diganti!” Ini bukan sekadar omong kosong. Sejak reshuffle pertama pada Februari 2025, Prabowo telah tiga kali mengganti posisi kunci, termasuk menyingkirkan Sri Mulyani demi Purbaya, yang dianggap lebih “loyal” dan agresif dalam mendorong kebijakan ekspansif Prabowo dikutip dari nasional.kompas.com, Analis politik menilai, kemarahan ini muncul karena Purbaya sering “bentrok” dengan menteri lain, seperti saat ia ancam potong anggaran proyek Luhut Binsar Pandjaitan jika tak terserap optimal, atau adu data dengan Bahlil Lahadalia soal hilirisasi dikutip dari bangka.tribunnews.com.
Gaya komunikasi Purbaya yang ceplas-ceplos—disebutnya sebagai “instruksi langsung dari Prabowo”—kini jadi sumber ketegangan. Mantan Kepala Kantor Komunikasi Presiden Hasan Nasbi mengkritik keras, menyebut Purbaya sering “baku tikam” di depan umum, yang melemahkan solidaritas kabinet dikutip dari ekonomi.bisnis.com. Bahkan Ketua Komisi XI DPR, Mukhamad Misbakhun, ikut nyinyir: “Purbaya terlalu sering campuri urusan kementerian lain!” Purbaya balas dengan sindiran tajam, tapi kini ia mengaku “hati-hati bicara” agar “tidak dimarahi” dari atas dikutip dari www.msn.com.
Sumber dekat Istana mengungkap, Prabowo “marah besar” saat Purbaya laporkan bahwa beberapa menteri “titipan Jokowi” masih pegang visi lama, seperti ketatnya fiskal ala Sri Mulyani, yang bertabrakan dengan target pertumbuhan 5,5% akhir 2025. “Purbaya adalah ‘juruselamat’ saya, siapa yang ngeyel, out!” katanya dalam rapat dengan Airlangga Hartarto dan Purbaya pada 29 Oktober 2025 dikutip dari nasional.kompas.com
Ini sejalan dengan peringatan Prabowo di acara wisuda Unpad pada 18 Oktober: “Satu-dua kali masih dimaafkan, tapi kalau tak kerja maksimal, reshuffle!” Dikutip dari www.tempo.co.
Reshuffle terbaru pada September 2025—yang ganti lima menteri—sudah bikin IHSG anjlok 1,28% pasca-pelantikan Purbaya, tapi elektabilitasnya malah melejit, bahkan “nempel” Prabowo di survei capres 2029 dengan 22,5% suara dikutip dari rmol.id
Media asing seperti South China Morning Post soroti ini sebagai upaya Prabowo “redam protes” pasca-demo Agustus, tapi pengamat khawatir kabinet gemuk berpotensi konflik internal lebih dalam www.cnbcindonesia.com.
Purbaya sendiri mewanti-wanti: Kebijakan Prabowo bisa “lebih mencekik” dari era Jokowi-SBY jika tak dorong perputaran uang swasta, tapi ia yakin ekonomi 10 bulan Prabowo “baik” meski PR menumpuk ekonomi.bisnis.com
Jokowi pun angkat bicara: “Purbaya mahzabnya beda dengan Sri, bagus untuk Prabowo” dikutip dari regional.kompas.com.
Kemarahan Prabowo ini jadi sinyal kuat: Kabinet harus “all-in” dengan Purbaya, atau reshuffle keempat menanti. Dengan popularitas Purbaya naik daun dan dukungan Jokowi, dinamika ini bisa jadi “senjata” Prabowo redam kritik publik jelang 2029. Tapi, jika konflik internal meledak, ekonomi Indonesia berisiko goyah. Pantau terus perkembangannya—apakah ada menteri “ngeyel” yang bakal jadi korban berikutnya? (Fahri)

